<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>zaldy suhatman</title>
	<atom:link href="http://zaldy.suhatman.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zaldy.suhatman.com</link>
	<description>Just Ordinary Father from Extraordinary Sons</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 May 2012 06:56:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Filosofi Truk Sampah</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/filosofi-truk-sampah/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/filosofi-truk-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 05:49:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[truk sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/2012/05/filosofi-truk-sampah/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari ada sebuah taxi yang menuju ke Bandara. Taxi itu melaju pada jalur yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil kuning melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan taxi itu. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut. Pengemudi mobil kuning tersebut mengeluarkan kepalanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu hari ada sebuah taxi yang menuju ke Bandara. Taxi itu melaju pada jalur yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil kuning melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan taxi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengemudi mobil kuning tersebut mengeluarkan kepalanya &amp; memaki ke arah taxi tersebut. Supir taxi hanya tersenyum &amp; melambai pada orang tersebut ..</p>
<p style="text-align: justify;">Penumpang yg ada dalam taxi itu sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat. Penumpang itu bertanya, &#8220;Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itulah penumpang itu belajar dari supir taxi tsb mengenai apa yg kemudian disebut &#8220;Filosofi Truk Sampah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, &amp; seringkali mereka membuangnya kepada kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, doakan mereka, lalu lanjutkan hidup &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang kita temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan &#8220;truk sampah&#8221; mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Hidup ini terlalu singkat utk diisi dgn kebencian, amarah dan penyesalan, maka kasihilah orang yg memperlakukan kita dengan benar, berdoalah bagi yang tidak ..</p>
<p style="text-align: justify;">Hidup itu 10% mengenai apa yang kita buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kita menghadapinya &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Hidup bukan mengenai menunggu hujan berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dlm hujan &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/filosofi-truk-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>With Guest Lecture</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/with-guest-lecture/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/with-guest-lecture/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 15:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/05/withpakdis.jpg"><img class="alignnone size-full" title="With Dahlan Iskan" src="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/05/withpakdis.jpg" alt="" width="2592" height="1944" /></a></p>
<p><a href="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/05/riawan-amir.jpg"><img class="alignnone size-full" title="With Riawan Amir" src="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/05/riawan-amir.jpg" alt="" width="1024" height="768" /></a></p>
<p><a href="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/05/withsugiharto.jpg"><img class="alignnone size-full" title="With Sugiharto" src="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/05/withsugiharto.jpg" alt="" width="2592" height="1944" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/with-guest-lecture/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>12 Rahasia Bisnis Rasulullah</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/12-rahasia-bisnis-rasulullah/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/12-rahasia-bisnis-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 05:05:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah adalah Pemimpin dan sekaligus busineesman yang terbesar sepanjang sejarah. Lebih dari 20 tahun Nabi Muhammad SAW berkiprah di bidang wirausaha (perdagangan), sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiriah, Basrah, Iraq, Yordania dan kota perdagangan di jazirah Arab. Namun demikian, Uraian mendalam tentang pengalaman dan keterampilan dagangnya kurang memperoleh pengamatan selama ini. Berikut ini beberapa rahasia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Rasulullah adalah Pemimpin dan sekaligus busineesman yang terbesar sepanjang sejarah. Lebih dari 20 tahun Nabi Muhammad SAW berkiprah di bidang wirausaha (perdagangan), sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiriah, Basrah, Iraq, Yordania dan kota perdagangan di jazirah Arab. Namun demikian, Uraian mendalam tentang pengalaman dan keterampilan dagangnya kurang memperoleh pengamatan selama ini.</p>
<p>Berikut ini beberapa rahasia bisnis Rasulullah :<span id="more-270"></span></p>
<p>1. Menjadikan bekerja sebagai lading menjemput surga.<br />
2. Dalam dunia bisnis kejujuran dan kepercayaan tak boleh ditawar sama sekali.<br />
3. Tak cumin hanya bermimpi, tapi harus jago mewujudkan mimpi itu<br />
4. Berfikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan.<br />
5. Rasulullah memiliki planning dan goal setting yang jelas.<br />
6. Pintar mempromosikan diri.<br />
7. Gaji karyawan sebelum keringatnya kering.<br />
8. Mengetahui rumus “bekerja dengan cerdas”.<br />
9. Mengutamakan sinergisme.<br />
10. Berbisnis dengan cinta.<br />
11. Pandai bersyukur dan berucap terima kasih.<br />
12. “Be the best” menjadi manusia yang bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/05/12-rahasia-bisnis-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 ajaran Cina Kuno</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/04/10-ajaran-cina-kuno/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/04/10-ajaran-cina-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 01:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cina kuno]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/2012/03/10-ajaran-cina-kuno/</guid>
		<description><![CDATA[Zhi de chong bai de 10 da hao xi guan: 10 kebiasaan yang pantas kita lakukan: 1. Mei bing ye yao ding qi ti yan Walau tidak sakit harus cek kondisi secara teratur. 2. Bu ke ye dei duo he wen shui. Walau tidak haus harus banyak minum air. 3. Yu shi nan jie ye [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Zhi de chong bai de 10 da hao xi guan: 10 kebiasaan yang pantas kita lakukan:</p>
<p>1. Mei bing ye yao ding qi ti yan</p>
<p>Walau tidak sakit harus cek kondisi secara teratur.</p>
<p>2. Bu ke ye dei duo he wen shui.</p>
<p>Walau tidak haus harus banyak minum air.</p>
<p>3. Yu shi nan jie ye dei xiang tong.</p>
<p>Walau ketemu masalah sulit tetap harus dipecahkan.</p>
<p>4. Mei you xi shi ye yao kuai le.</p>
<p>Walau tidak ada hal menyenangkan harus tetap bahagia.</p>
<p>5. You li ye yao rang ren san fen.</p>
<p>Walau kita berada di pihak yg benar, terkadang tetap kita perlu mengalah.</p>
<p>6. You quan ye yao di diao zuo ren.</p>
<p>Walau memiliki kekuasaan tetap harus berkepribadian luhur.</p>
<p>7.  Bu jue pi lao ye dei xiu xi.</p>
<p>Walau tidak merasa lelah harus tetap beristirahat.</p>
<p>8. Sheng huo fu yu ye yao zhi zu.</p>
<p>Walau sudah kaya harus tetap dapat membatasi diri.</p>
<p>9, Zai mang ye yao zhong shi duan lian.</p>
<p>Walau sibuk sekali harus tetap mementingkan olah raga.</p>
<p>10.Mei shi ye yao hu xiang guan ai.</p>
<p>Walau tak terjadi apa² harus tetap saling menyayangi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/04/10-ajaran-cina-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Republik Tycoon</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/03/republik-tycoon/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/03/republik-tycoon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 11:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Republik Tycoon ayo bergabung]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.republiktycoon.com/member/aff/go?r=609&amp;i=7"><img src="http://www.republiktycoon.com/member/file/get/path/.banners.4f3f6bc403d24/i/609" alt="Tycoon 250x250" width="250" height="250" border="0" /></a></p>
<p>Republik Tycoon ayo bergabung</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/03/republik-tycoon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Good Story About raising a child</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/02/good-story-about-raising-a-child/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/02/good-story-about-raising-a-child/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 09:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Dapat cerita dari Mailing list. biar ga lupa di posting disini aja. Good to pass this on to your children&#8230;. This is a powerful message in our modern society. We seemed to have lost our bearings &#38; our sense of direction. One, young, academically excellent person went to apply for a managerial position in a [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dapat cerita dari Mailing list. biar ga lupa di posting disini aja.</p>
<p style="text-align: justify;">Good to pass this on to your children&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">This is a powerful message in our modern society. We seemed to have lost our bearings &amp; our sense of direction.</p>
<p style="text-align: justify;">One, young, academically excellent person went to apply for a managerial position in a big company.</p>
<p style="text-align: justify;">He passed the first interview. The director who did the last interview, made the last decision.</p>
<p style="text-align: justify;">The director discovered from the CV that the youth&#8217;s academic achievements were excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate research. He never had a year when he did not score.</p>
<p style="text-align: justify;">The director asked, &#8220;Did you obtain any scholarships in school?&#8221; The youth answered &#8220;none&#8221;.  The director asked, &#8221; Was it your father who paid for your school fees?&#8221; The youth answered, &#8220;My father passed away when I was one year old. It was my mother who paid for my school fees.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-244"></span>The director asked, &#8221; Where did your mother work?&#8221; The youth answered, &#8220;My mother worked as a clothes cleaner. The director requested the youth to show his hands. The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.</p>
<p style="text-align: justify;">The director asked, &#8221; Have you ever helped your mother wash the clothes before?&#8221; The youth answered, &#8220;Never, my mother always wanted me to study and read more books. Furthermore, my mother can wash clothes faster than me.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">The director said, &#8220;I have a request. When you go back today, go and clean your mother&#8217;s hands and then see me tomorrow morning.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back, he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, but with mixed feelings, she showed her hands to her son.</p>
<p style="text-align: justify;">The youth cleaned his mother&#8217;s hands slowly. His tears fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother&#8217;s hands were so wrinkled and that there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother shivered when they were cleaned with water.</p>
<p style="text-align: justify;">This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes every day to enable him to pay the school fee. The bruises in the mother&#8217;s hands were the price that the mother had to pay for his graduation, academic excellence and his future.</p>
<p style="text-align: justify;">After finishing the cleaning of his mother hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother.</p>
<p style="text-align: justify;">That night, mother and son talked for a very long time.</p>
<p style="text-align: justify;">Next morning, the youth went to the director&#8217;s office.</p>
<p style="text-align: justify;">The Director noticed the tears in the youth&#8217;s eyes and asked, &#8221; Can you tell me what you did and learned yesterday in your house?&#8221; The youth answered, &#8221; I cleaned my mother&#8217;s hands, and also finished cleaning all the remaining clothes.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">The Director asked, &#8221; Please tell me your feelings.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">The youth said,</p>
<p style="text-align: justify;">Number 1, I know now the meaning of appreciation. Without my mother, there would not be the successful me today.</p>
<p style="text-align: justify;">Number 2, by working together and helping my mother, only now I realize how difficult and tough it is to get something done.</p>
<p style="text-align: justify;">Number 3, I have come to appreciate the importance and value of family relationship.</p>
<p style="text-align: justify;">The director said, &#8221; This is what I am looking for in my new manager.</p>
<p style="text-align: justify;">I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life. Son,you are hired.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Later on, this young person worked very hard, and received the respect of his subordinates. Every employee worked diligently and as a team. The company&#8217;s performance improved tremendously.</p>
<p style="text-align: justify;">A child, who has been over protected and habitually given whatever he or she wanted, would develop the entitlement mentality and would always put himself first. He would be ignorant of his parent&#8217;s efforts. When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others. This kind of person, may be good academically and may be successful for a while, but eventually would not feel a sense of achievement. He will grumble and be full of hatred and fight for more.</p>
<p style="text-align: justify;">If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid instead?*</p>
<p style="text-align: justify;">You can let your kid live in a big house, eat good meals, learn piano, watch a big screen TV. But when you are cutting grass, please let him experience it. After a meal, let him wash his plates and bowls together with his brothers and sisters. It is not because you do not have money to hire a maid, but it is because you want to love him in the right way. You want him to understand, no matter how rich his parents are, one day their hair will grow gray, same as the mother of that young man . The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/02/good-story-about-raising-a-child/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leadership Night With Pak Dis</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/leadership-night-with-pak-dis/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/leadership-night-with-pak-dis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 10:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Selasa lalu tepatnya tanggal 24 Januari 2012 dari kampus SBM ITB mengadakan A Leadership Night keynote speakernya adalah Meneg BUMN Pak Dahlan Iskan. Kesempatan yang langka ini untuk mendengarkan langsung cerita dari Pak Dis (Panggilan akrabnya) apalagi telah banyak membacanya kumpulan tulisannya yang ada pada dahlaniskan.wordpress.com walaupun bukan merupakan blog pribadi beliau namun blog ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selasa lalu tepatnya tanggal 24 Januari 2012 dari kampus <a title="SBM ITB" href="http://www.sbm-itb.ac.id" target="_blank">SBM ITB</a> mengadakan A Leadership Night keynote speakernya adalah Meneg BUMN Pak Dahlan Iskan. Kesempatan yang langka ini untuk mendengarkan langsung cerita dari Pak Dis (Panggilan akrabnya) apalagi telah banyak membacanya kumpulan tulisannya yang ada pada <a title="Dahlan Iskan KlipBlog" href="http://dahlaniskan.wordpress.com" target="_blank">dahlaniskan.wordpress.com</a> walaupun bukan merupakan blog pribadi beliau namun blog ini mengumpulkan tulisan-tulisan dari Pak Dis kemudian di posting pada blog tersebut. Blog tersebut ini merupakan jasa dari <a title="Pramudya Putra Utama" href="http://pramudyaputrautama.wordpress.com" target="_blank">pramudyaputrautama.wordpress.com</a> biasanya di sebut oleh mas Pramudya sebagai KlipBlog.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-236"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karena tidak mau ketinggalan dengan semangat 45 aku berangkat ke tempat acara Gedung Bidakara, sampai disana ketemu dengan teman-teman dari BASHAR2 yg lain yaitu Om Liwa, Mas Teguh. yang lain pada kemana ya. karena banyak yang belum datang atau malah ga datang ya hehe. akhirnya kita bertiga sepakat untuk masuk ke ruangan, wow lumayan gede ruangannya. Setelah mencari tempat yang strategis maka kami pun mengambil cemilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menikmati cemilan tidak terasa sudah masuk waktu maghrib, kami memutuskan untuk sholat maghrib terlebih dahulu, selesai sholat maghrib ketemu dengan Pak Nur akhirnya kami duduk berempat, trus datang Lina dan Murti.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar jam 7.30 datang Pak Dis dengan pakaian khasnya.  Baju Kemeja Putih dan Sepatu Ketsnya. seluruh yang hadir berdiri untuk menyalami, tidak ketinggalan aku dengan sigap berdiri di area yang kemungkinan dilewati oleh Pak Dis. akhirnya dapat juga salaman dengan Pak Dis.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Pak Dis datang acara pun dimulai dengan pembukaan dan perkenalan oleh Pak Yos dan Dekan SBM ITB.</p>
<p style="text-align: justify;">Acara Puncak dimulai dengan Sharing dari Pak Dis. untuk menjadi seorang Leader dimulai dengan Latihan menyelesaikan masalah pada tahap awal mungkin akan agak sulit karena harus membuat SWOT analisis. namun seiring waktu biasanya seorang leader akan terbiasa / by nature melakukan SWOT analisis dalam pikirannya sehingga dapat langsung mengambil keputusan.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu Pak Dis mengatakan banyak Pegawainya yang mengatakan bahwa masih terdapat masalah dalam pekerjaannya namun sudah bersungguh-sungguh tapi masalahnya belum juga selesai. menurut Pak Dis berarti anda belum sungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah atau pekerjaan itu. Jika sudah sungguh-sungguh anda akan memikirkan masalah atau pekerjaan itu anda akan bermimpi atau bagi yang sudah berkeluarga mungkin anda sampai mengigau mengenai pekerjaan itu. Istilahnya Eat, Sleep dan Dream baru anda sungguh-sungguh.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga mengatakan mengenai banyaknya anak pejabat tinggi yang ingin mempunyai bisnis atau menjadi kaya dalam waktu instant. Para pengusaha muda tersebut ingin dikenal dengan membangun beberapa perusahaan dalam waktu singkat. menurut Pak Dis hal ini adalah hal yang salah. Bangunlah bisnis itu dari kecil nikmati prosesnya dan bisnis itu tidak harus besar namun ada isinya. sesuai dengan pepatah kuno &#8220;Gunung itu tidak perlu Tinggi yang penting ada Dewanya&#8221; &#8220;Sungai itu tidak perlu Dalam yang penting ada Naganya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sharing beliau banyak yang antusias bertanya dari bagaimana memimpin BUMN yang merupakan sarang Korup, Kurang displin, dll. hingga ada yang bertanya jika anda dilahirkan kembali bisnis apa yang anda tekuni, ataupun pertanyaan mengenai Nilai yang dianut oleh Pak Dis.</p>
<p style="text-align: justify;">A Leadership Night ditutup dengan penghargaan kepada Para Mahasiswa dan Dosen yang mendapatkan nilai tertinggi dalam Kelas, Alhamdulillah dari Bashar 2 ada Mr. Anung dan Mr. Satrio Utomo sedangkan untuk Dosen Ada Pak Acep dan Pak Arie Modutoo.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak Lupa setelah acara tersebut saya dan murti langsung minta berfoto dengan Pak Dis. berikut Fotonya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/01/withpakdis.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-239" title="withpakdis" src="http://zaldy.suhatman.com/wp-content/uploads/2012/01/withpakdis-150x150.jpg" alt="" width="341" height="341" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Acara yang membuat pencerahan. maju Terus Pak Dis&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/leadership-night-with-pak-dis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/aku-ingin-menjadi-orang-yang-bertepuk-tangan-di-tepi-jalan/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/aku-ingin-menjadi-orang-yang-bertepuk-tangan-di-tepi-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 07:23:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Nice Story&#8230;utk menghargai setiap anak punya kecerdasan yang berbeda Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nice Story&#8230;utk menghargai setiap anak punya kecerdasan yang berbeda</p>
<p>Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan</p>
<p style="text-align: justify;">Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji &#8220;Superman cilik&#8221; di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-228"></span><br />
<img title="More..." src="http://zaldy.suhatman.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><br />
Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah &#8220;Humor anak-anak&#8221; dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/aku-ingin-menjadi-orang-yang-bertepuk-tangan-di-tepi-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is Your Life</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/yourlife/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/yourlife/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 10:23:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Barusan Blogwalking ke blognya Founder TDA Roni Yuzirman ada posting bagus yang diambil dari HOLSTEE mengenai hidup. kata-katanya menginspirasi sekali. coba ke websitenya ada youtube videonya jadi sekalian di embed supaya gampang ini saya tuliskan kata-katanya. This is your life. Do what you love, and do it often. If you don’t like something, change it. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barusan Blogwalking ke blognya Founder TDA <a title="Roni Yuzirman" href="http://roniyuzirman.com" target="_blank">Roni Yuzirman</a> ada posting bagus yang diambil dari HOLSTEE mengenai hidup. kata-katanya menginspirasi sekali. coba ke websitenya ada youtube videonya jadi sekalian di embed</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=QDmt_t6umoY"><img src="http://img.youtube.com/vi/QDmt_t6umoY/2.jpg"></a></p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=QDmt_t6umoY">Click here</a> to view the video on YouTube.</p>

<p>supaya gampang ini saya tuliskan kata-katanya.</p>
<p>This is your life.</p>
<p>Do what you love, and do it often.</p>
<p>If you don’t like something, change it.</p>
<p>If you don’t like your job, quit.</p>
<p>If you don’t have enough time, stop watching TV.</p>
<p>If you are looking for the love or your life, stop.</p>
<p>They will be waiting for you when you start doing things you love.</p>
<p>Stop over analyzing, life is simple.</p>
<p>All emotions are beautiful.</p>
<p>When you eat, appreciate every last bite.</p>
<p>Open your mind, arms, and heart to new things and people, we are united in our differences.</p>
<p>Ask the next person you see what their passion is, and share your inspiring dream with them.</p>
<p>Travel often. Getting lost will help you find yourself.</p>
<p>Some opportunities only come once, seize them.</p>
<p>Life is about the people you meet, and the things you create with them. So go out and start creating.</p>
<p>Life is short. Live your dream and share your passion.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/yourlife/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggendong Monyet</title>
		<link>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/menggendong-monyet/</link>
		<comments>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/menggendong-monyet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 02:09:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zaldy Suhatman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zaldy.suhatman.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa ada manajer yang seperti kehabisan waktu, sementara staf-stafnya justru kehabisan pekerjaan? Mengapa ada manajer yang tampak seperti kewalahan, sering lembur serta bekerja keras tapi tidak pernah sempat menyelesaikan segala pekerjaannya? Apa itu manajemen monyet? Bagaimana caranya agar tidak mengambil ‘beban/tanggung jawab’ (menggendong monyet) orang lain sehingga yang bersangkutan bisa mengurus dan memberi makan ‘monyet-monyet’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mengapa ada manajer yang seperti kehabisan waktu, sementara staf-stafnya justru kehabisan pekerjaan? Mengapa ada manajer yang tampak seperti kewalahan, sering lembur serta bekerja keras tapi tidak pernah sempat menyelesaikan segala pekerjaannya? Apa itu manajemen monyet? Bagaimana caranya agar tidak mengambil ‘beban/tanggung jawab’ (menggendong monyet) orang lain sehingga yang bersangkutan bisa mengurus dan memberi makan ‘monyet-monyet’ mereka sendiri?</p>
<p><strong>Manajemen waktu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bill Oncken di “<strong>Harvard Business Review</strong> “ [1974] menulis sebuah artikel klasik yang sangat menarik dengan judul “<em>Mengelola Manajemen Waktu: Monyet Siapa</em> <em>ini?</em>” Dalam artikel tersebut Oncken menjabarkan bahwa ada tiga jenis manajemen waktu, yakni:</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Waktu yang dipaksakan bos – digunakan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang bos inginkan dan si manajer tidak bisa mengacuhkan tanpa  beresiko mendapatkan hukuman (langsung atau tidak).</li>
<li style="text-align: justify;">Waktu yang dipaksakan sistem – digunakan untuk mengerjakan tuntutan-tuntutan administratif dan pekerjaan dari rekan kerja. Mengacuhkan permintaan ini bisa beresiko mendapatkan hukuman/penalti (langsung atau tidak).</li>
<li style="text-align: justify;">Waktu yang dipaksakan sendiri – digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang kita putuskan sendiri. Di sini tidak ada penalti.</li>
</ol>
<p><strong>Dimana monyetnya?</strong></p>
<p><span id="more-216"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, misalnya, Anda sedang tergesa-gesa berjalan di lorong kantor ketika  salah seorang staf Anda mendekati dan menyapa, “Selamat pagi Pak. Boleh saya bicara sebentar? Kita ada masalah nih, Pak”. Karena Anda  perlu mengetahui masalah subordinate Anda, maka Anda pun berhenti dan  mendengarkan staf Anda menjelaskan masalahnya secara rinci. Anda terjebak di tengah-tengahnya. Karena pemecahan masalah itu memang bidang Anda, tak terasa waktu pun berlalu. Ketika akhirnya Anda melirik jam tangan, obrolan yang tampaknya hanya tiga menit itu ternyata sudah memakan waktu tiga puluh menit.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena hanya sekilas, Anda memutuskan yang penting  tahu dulu masalahnya meski belum cukup tahu untuk mengambil keputusannya. Maka Anda pun mengatakan, “Ini masalah penting, tetapi saya belum ada waktu membahasnya. Biar saya pikirkan dulu, nanti saya beri kabar.” Anda pun berpisah. Diskusi tersebut membuat Anda terlambat sampai ke tempat tujuan.</p>
<p><strong>Monyet pertama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum Anda berjumpa di lorong itu, sesungguhnya monyetnya ada di punggung staf Anda. Ketika Anda berdua membicarakannya, masalahnya menjadi pertimbangan bersama, maka monyet pun memijak punggung Anda berdua. Namun saat Anda mengatakan, “Biar saya pikirkan dulu; nanti saya beri kabar,” beban di punggung Anda menjadi berlipat sementara staf Anda pergi dengan beban dua puluh kilogram lebih ringan. Kenapa begitu? Sebab monyetnya sudah sepenuhnya pindah ke punggung Anda.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita berandai-andai. Taruh kata masalah yang dipertimbangkan itu adalah bagian dari tugas staf Anda tadi dan, taruh kata lagi,  sesungguhnya ia mampu betul memberikan usulan-usulan solusi bagi masalah yang dibicarakannya itu. Maka, ketika Anda  membiarkan monyetnya pindah ke punggung Anda, itu sama saja dengan Anda secara sukarela mengerjakan dua hal yang semestinya dikerjakan oleh staf Anda tadi, yakni:</p>
<ol>
<li>Menerima tanggung jawab atas masalah milik staf Anda, dan</li>
<li>Menjanjikan laporan perkembangan kepada staf tersebut</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Rumusannya, “<em>Untuk setiap monyet, selalu ada dua pihak yang terlibat: Yang menyelesaikan dan yang</em> <em>mengawasinya</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kasus di atas, tampak bahwa Anda yang berperan sebagai bawahan, sementara bawahan Anda justru berperan sebagai pengawas. Keesokan harinya staf tersebut  datang beberapa kali ke ruangan Anda dan mengatakan, “Apa kabar Pak? Bagaimana hasilnya?” Kalau Anda belum memecahkan persoalannya secara memuaskan baginya, bisa-bisa ia akan menekan Anda untuk mengerjakan apa yang sesungguhnya adalah pekerjaannya, dan bukan pekerjaan Anda.</p>
<p><strong>Monyet kedua</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Anda menerima memo dari Boni, salah seorang staf Anda, yang intinya berbunyi, “Pak, kita kurang didukung oleh bagian Gudang dalam proyek X. Bisakah Bapak bicara dengan manajer mereka?” Dan, tentunya Anda mengiyakan. Semenjak itu Boni sudah dua kali menindak-lanjuti persoalannya dengan pertanyaan, “Bagaimana soal proyek X nya Pak? Bapak sudah bicara belum dengan bagian Gudang? Dua kali pula Anda dengan rasa bersalah menjawab, “Belum sih, tetapi jangan kuatir, pasti saya bicarakan”.</p>
<p><strong>Monyet ketiga</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini datang dari Mimi. Dengan cerdik ia menyanjung Anda terlebih dulu sebelum akhirnya meminta tolong, sebab Anda punya  pengetahuan yang mendalam tentang organisasi dan keunikan teknis dari masalah yang dihadapinya ketimbang dirinya.</p>
<p><strong>Monyet keempat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi monyet yang Anda janjikan adalah membuat uraian tugas buat Santi. Ia staf yang baru dipindahkan dari departemen lain untuk mengisi posisi yang baru saja diciptakan dalam departemen Anda. Anda belum sempat menentukan secara spesifik apa saja tugas jabatan baru itu. Jadi, ketika ia bertanya apa yang diharapkan darinya, Anda berjanji untuk menuliskan uraian tugas untuk mengklarifikasikan tanggung-jawabnya.</p>
<p><strong>Monyet kelima</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Putera Anda pulang dari sekolah dan berkata, ”Ayah! Ibu! Aku diterima jadi anggota tim basket yunior!”</p>
<p style="text-align: justify;">Anda menyahut, “Woww…keren..! Ayah dan Ibu bangga, nak!” Lalu ia berkata, “Tapi Ayah…Ibu…aku mau diantar-jemput ke tempat latihan  setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat sepulang sekolah.” Nah, satu monyet dilemparkan lagi. Lalu siapakah yang akan mendapatkan monyet itu? Sudah pasti Anda dan isteri Anda. Yang mulanya kabar gembira sekarang menjadi monyet, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Akan lebih parah lagi jika monyetnya segera beranak pinak! Isteri Anda berkata pada putera Anda, “Ibu bisa mengantarmu Selasa dan sekali-sekali Jumat, tetapi Kamis benar-benar tidak mungkin. Siapa lagi teman satu timmu? Mungkin Ibu bisa mengatur antar-jemput bersama.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah putera Anda menceritakan siapa saja teman satu timnya, isteri Anda  mengatakan, “Akan segera Ibu atur, sayang. Nanti Ibu beritahu siapa yang akan mengantar-jemputmu.” Tanpa perduli samasekali, putera Anda pun lari ke arah  TV dengan gembiranya, “Terima kasih Bu. <em>I love you!”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pastilah putera Anda terlalu kecil untuk bisa mengemudi, tetapi tentunya ia bisa mengupayakan alternatif lain untuk transportasinya dan dalam prosesnya ia belajar memikul tanggung jawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah, betapa mudahnya Anda mengambil monyet-monyet orang lain dalam segala bidang kehidupan, padahal mestinya itu tidak perlu. Lalu, dalam prosesnya, Anda  telantarkan monyet Anda  sendiri dan membuat orang lain tergantung kepada Anda serta mencampakkan peluang mereka untuk belajar memecahkan masalah mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Datanglah monyet keenam, ketujuh, kedelapan….. dari keponakan, sepupu, mertua, ipar, tetangga, adik, aa’, teteh…..dst</p>
<p><strong>Di mana-mana monyet</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di sekeliling Anda monyet, monyet dan monyet! Anda bahkan kini mendapatkan beberapa <em>“monyet-monyet lemparan!”</em> Monyet-monyet ini diantaranya dibuat oleh Tenny, yang gaya kerja serta kepribadiannya kadang menimbulkan masalah bagi orang-orang di bagian lain organisasi Anda. Maka yang lain pun membawakan masalahnya kepada Anda, yang pasti Anda jawab dengan: “Biar saya pelajari; nanti saya kabari.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Anda dapat melihat jelas, diantara monyet-monyet yang berkecamuk di benak Anda itu, kebanyakan justru monyet milik staf Anda. Artinya, staf Andalah yang seharusnya menangani dan bukan Anda. Meskipun demikian, ada juga monyet kepunyaan Anda  sendiri, yaitu, bagian dari uraian tugas Anda. Yang pasti, kebanyakan monyet-monyet di kantor Anda itu bukan seluruhnya monyet Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama kemudian beban Andapun sudah penuh (oleh tugas dari bos Anda maupun orang lain), tetapi monyetnya terus saja berdatangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ayal lagi, maka Anda pun mulai ‘meminjam’ waktu milik kehidupan pribadi Anda: berolah raga, hobi, kegiatan warga, ibadah, dan tentu saja nantinya dari keluarga Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Ujung-ujungnya Anda sampai pada titik di mana tidak lagi tersedia waktu. Tetapi monyet-monyetnya terus saja berdatangan. Ketika itulah Anda mulai menunda-nunda, sementara staf Anda menunggu. Anda sama-sama tidak melakukan apa-apa terhadap monyet-monyet itu, suatu duplikasi upaya yang sangat mahal.</p>
<p style="text-align: justify;">Penunda-nundaan Anda itu membuat Anda menjadi penghambat bagi staf Anda. Mereka lumpuh karena Anda dan menjadi penghambat bagi orang-orang di departemen lainnya. Ketika orang-orang departemen lain ini komplain, Anda berjanji untuk mempelajari masalahnya dan memberi mereka kabar. Waktu yang Anda habiskan untuk mengurus “<em>monyet-monyet dari samping</em>” ini semakin mengurangi waktu untuk menangani monyet-monyet staf Anda sendiri. Lalu tiba-tiba bos Anda mendapat kabar ada masalah di departemen Anda. Ia menuntut lebih banyak laporan dari Anda. Kini bukan hanya “<em>monyet-monyet dari samping</em>” saja yang Anda dapatkan, tapi juga “<em>monyet-monyet dari atas</em>” dan ini harus didahulukan dari yang lain. Waktu yang Anda habiskan untuk itu semakin mengurangi waktu untuk yang lainnya. Sungguh sangat kusut. Mengingat-ingat semua kekacauan itu, Anda sadar bahwa Anda sendirilah penyebab hambatan organisasi Anda; sungguh luar biasa masalah yang Anda timbulkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu, masalah yang lebih besar adalah ‘hilangnya peluang’; menghabiskan seluruh waktu Anda menangani monyet-monyet orang lain sementarai monyet-monyet Anda sendiri tidak tertangani. Sebagai manager, Anda sekarang bukannya <em>me-manage</em>, Anda malah <em>di-manage</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Monyet-monyet dari atas</em>” adalah waktu yang dipaksakan oleh bos, seperti poin 1 dari manajemen waktu yang Bill Oncken uraikan di awal tulisan ini. “<em>Monyet-monyet dari samping</em>” adalah waktu yang dipaksakan sistem seperti poin 2 dan “<em>Monyet-monyet yang Anda sendiri</em>” dan “<em>Monyet-monyet</em> <em>yang dengan suka rela Anda ambil dari keluarga, kerabat, sahabat dan tetangga”</em> adalah waktu yang dipaksakan sendiri seperti nomor 3.</p>
<p><strong>Menangani monyet-monyet</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Oncken memberi kesimpulan sederhana untuk menangani monyet yakni:</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Kapan saja saya membantu Anda, maka sesungguhnya masalah Anda kini menjadi masalah saya. Begitu masalah itu menjadi milik saya, maka Anda tidak lagi punya masalah. Saya tidak bisa membantu seseorang yang tidak punya masalah. Anda boleh meminta bantuan lewat skedul waktu yang kita tentukan, dan kita putuskan bersama apa langkah selanjutnya dan siapa yang akan melakukannya</em>”</p>
<p>Untuk para manajer, inilah enam hal yang harus Anda pertimbangkan, yaitu:<em></em></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><em>Monyet sebaiknya disuapi atau ditembaki.</em> Tak seorangpun senang menerima dampak dari monyet-monyet yang lapar. Monyet mesti disuapi secara berkala. Dalam metafora ini, masalah harus dibicarakan secara berkala antara manajer dan staf yang punya masalah. Kalau monyetnya bisa ditembak (masalah diselesaikan secepat mungkin), tentu saja tidak diperlukan waktu lagi untuk menyuapinya.<em></em><em></em></li>
<li style="text-align: justify;"><em>Setiap monyet seharusnya punya jadwal waktu untuk suapan selanjutnya</em>. Setelah sebuah sesi penyuapan, si manajer seyogyanya memilih waktu yang tepat untuk penyuapan selanjutnya dan punya daftar langkah-langkah yang harus diambil oleh stafnya. “Bisa kita ketemu Selasa depan jam 11.00 untuk menindaklanjuti hal ini dan membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya?<em></em></li>
<li style="text-align: justify;"><em>Populasi monyet seharusnya dipertahankan di bawah jumlah waktu maksimum yang dipunyai si manajer</em>. Untuk menyuapi seekor monyet, idealnya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dan si manajer harus mempertahankan jadwal waktu yang memungkinkan untuk dikelolanya dengan baik<em>.</em></li>
<li style="text-align: justify;"><em>Monyet-monyet sebaiknya disuapi pada waktu yang telah ditentukan</em>. Membiarkan staf membawa masalah-masalahnya sesuai dengan waktu mereka sendiri, meningkatakan kemungkinan monyet-monyet tersebut berpindah dari pundak staf ke pundak manajer. Dengan menentukan waktu terinci untuk menyelesaikan masalah, si manajer mendorong stafnya untuk mengambil keputusan terhadap masalah tersebut dan   memberinya umpan balik.<em></em></li>
<li style="text-align: justify;"><em>Skedul penyuapan monyet bisa diskedul ulang, tapi jangan pernah benar-benar ditunda</em>. Baik si manajer maupun staf boleh saja melakukan skedul ulang untuk menyuapi monyet, namun tetap harus diskedulkan ke waktu yang spesifik untuk menghindari hilangnya jejak masalah tersebut.<em></em></li>
<li style="text-align: justify;"><em>Monyet-monyet sebaiknya disuapi secara tatap muka atau lewat telpon, namun tidak lewat tulisan (surat/sms/email, dll)</em>. Penyuapan yang dilakukan lewat tatap muka atau telpon bermanfaat untuk memastikan si monyet tetap menjadi masalah staf tersebut, kecuali jika manajer memandang perlu untuk mengambil alih masalahnya.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ringkasnya, keterampilan mendelegasikan membantu manajer menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah untuk staf-stafnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekedar pengingat, bila Anda sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang mengacaukan manajemen waktu Anda, ingatlah tiga huruf ini: RHW.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, kita mulai dengan huruf <strong>H</strong> (HAPUSKAN). Kalau bisa di coret dari daftar Anda, hapus pekerjaan itu (tembaki monyet Anda).</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, huruf <strong>W</strong> (WAKILKAN). Kalau Anda bisa mewakilkan/mendelegasikan pekerjaan Anda, lakukanlah, sepanjang diberikan pada orang yang tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, terakhir, <strong>R</strong> (REKAYASAKAN). Artinya, jadwalkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan Anda menjadi lebih sederhana dan terukur. NLP menyebutnya sebagai <em>chunking down</em> (memecah-mecah menjadi lebih terkelola).</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Anda sudah membaca Bakul Pertama dari serial Beras Kencur ini, tentu masih ingat metafora berikut: Bagaimana cara Anda menyantap seekor gajah? Tentu saja dengan mengunyahnya sepotong demi sepotong, bukan?</p>
<p><strong>Sumber:  </strong><br />
www.indonlp.com</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zaldy.suhatman.com/2012/01/menggendong-monyet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

